Uang Kripto Dilarang, Kenapa Terus Tumbuh

img_title

CEO Rekeningku Sumardi.

VIVA – Seiring dengan perkembangan dunia, financial technology atau fintech di industri keuangan terus bertumbuh di Indonesia saat ini. Salah satu yang menjadi sorotan adalah uang kripto atau cryptocurrency.

Sebagiabn besar negara di dunia sudah tidak asing lagi dengan uang kripto. Bahkan selain untuk investasi, ada pula yang menggunakannya sebagai alat transaksi pembayaran.

Di Indonesia meskipun belum ‘halal’, baru-baru ini ramai terungkap di Bali bahwa ada transaksi pembayaran yang telah menggunakan uang kripto. Mereka yang menggunakan mata uang ini mayoritas adalah turis asing untuk membiayai kebutuhan liburanny

Meski demikian otoritas moneter dan industri keuangan di Indonesia bisa bergerak cepat untuk mencegah meluasnya peredaran uang kripto sebagai transaksi pembayaran. Sebab undang-undang menegaskan, alat pembayaran yang legal dan sah digunakan di Indonesia adalah rupiah.

Terlepas dari hal tersebut semakin berkembangnya uang kripto di indonesia tidak bisa terbendung. Bukan sebagai alat pembayaran, tapi sebagai salah satu instrumen investasi yang menjanjikan keuntungan yang besar dan kemudahan dalam bertransaksi.

VIVA berkesempatan mewawancarai Chief Executive Officer (CEO) Rekeningku.com Sumardi Fung. Perusahaan itu merupakan marketplace perdagangan uang kripto di Indonesia.

Sumardi menjelaskan, perkembangan cryptocurrency di dunia khususnya di Indonesia dan apa untungnya berinvestasi di instrumen investasi ini serta prospeknya ke depan.

Dia pun meyakini, blockchain atau suatu sistem di mana uang kripto itu dihasilkan, merupakan masa depan pusat data di seluruh dunia. Berikut ini kutipan wawancaranya

Apa itu cryptocurrency?

Kalau kita lihat ke depannya harusnya uang kripto itu bisa terus tumbuh. Kenapa, padahal di Indonesia itu dilarang sebagai alat transaksi, di beberapa negara juga enggak boleh, kenapa masih tumbuh.

Jadi kalau kita lihat kripto jangan lihat kriptonya aja, tapi harus lihat teknologi blockchain nya. Karena pasti akan mengubah industri teknologi informasi dalam menyimpan data.

Perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon aja sudah mengembangkan blockchain, Microsoft juga sudah. Karena, di blockchain itu kalau kita tanam satu data, itu transparansinya luar biasa dan tidak bisa diubah.

Pada prinsipnya blockchain tempat menyimpan data. Yang membedakan dengan tempat simpan data sekarang adalah, data yang telah ditanam di blockchain, itu hampir tidak mungkin bisa diubah. Karena data blockchain itu disebarkan ke semua orang untuk bisa berpartisipasi.

Jadi masyarakat bisa pegang data tersebut, untuk mengubah atau meng-input data baru itu ada yang namanya konsensus lapangan, teknikal itu. Dan untuk mengubah satu data itu perlu persetujuan 51 persen dari platfom blockchain tersebut.

Kehebatan blockchain menyebarkan data ke masyarakat. Nah masyarakat itu berpartisipasi dapat apa, kan pasti harus dapat sesuatu, nah itu cryptocurrency.

Apa untungnya investasi uang kripto?

Dulu Bitcoin kan dibuat sebenarnya karena punya kekesalan saat krisis ekonomi. Kesal karena (krisis itu) sebenarnya di set up oleh goverment-nya itu sendiri. Lalu, kita analogikan uang 20 tahun lalu Rp10 ribu itu besar, sekarang beli makan aja sudah susah. 20 tahun ke depan mungkin hanya untuk bayar parkir dan 50 tahun ke depan jadi kayak Rp1.000 rupiah.

Kalau kelas menengah ke bawah kita kerja setengah mati kumpulin Rp500 ribu – 1 juta per bulan setelah 1 tahun jadi Rp20 juta. Bisa bayar uang muka rumah tapi inflasinya gila-gilaan. Kalau di Bitcoin, dia sudah menanamkan di blockchain itu, jumlah cuma US$21 juta. Kalau kita pegang 1 bitcoin zaman awal itu enggak ada harga karena enggak ada yang pakai.

Tapi seiring dengan tumbuhnya ekonomi digital, banyak yang mau pakai. Dan 1 bitcoin kita dulu yang tidak ada harganya, sekarang kan value-nya jadi luar biasa. Jadi enggak ada yang namanya inflasi, yang ada deflasi terus-terusan.

Ada dua cara investasi cryptocurrency, menambang dan trading, bisa dijelaskan? 

Prinsip trading cryipto basic-nya sama dengan jual-beli saham, yang membedakan perusahaan itu bisa terbitin saham baru. Kalau di crypto misalnya Ethareum itu tidak mungkin karena sudah dipatok kan limitnya berapa.

Kalau mining itu kan dari setiap blok yang didapat, dia mendapatkan reward dari blockchain itu, satu blok itu tiga Ethereum plus transaksi itu ada fee-nya. Bitcoin itu kurang lebih sama.

cryptocurrencies.

Untung mana jadi penambang atau trader cryptocurrency?

Investasi untuk menambang dari Rp10 juta sudah bisa untuk satu mining rig atau alat tambang tapi hasilnya itu kecil. Kurang lebih di kisaran Rp40-50 jutaan itu sudah mulai bisa, oh lumayan ya.

Kalau modal Rp40-50 jutaan, dalam kondisi sekarang mungkin bisa dapat kurang lebih 7-8 persen dari nilai investasi per bulan. Dengan catatan setting semua benar ya, jangan pakai AC, setting software-nya benar.

Jadi balik modalnya 15-18 bulan lah, kalau setting nya tidak benar bisa 20 bulann lah. Kalau setting tidak benar paling 4-5 persen per bulan.

Kalau trader itu sih sudah seperti main saham, tergantung dia invest ke saham mana, tergantung fluktuasi. Misalnya ke saham yang benar, mungkin dalam 3-6 bulan bisa untung, tapi kalau investasinya ke saham yang tidak benar bisa rugi.

Kurang lebih kita juga harus tahu, prospeknya. Masyarakat yang terlibat sudah seperti apa, dukungan dari perusahaan-perusahaan raksasa seperti apa, teknologi bagus. Jadi boleh saja investasi di kripto, tapi jangan pilih yang tidak jelas.

Investor atau trader-nya sudah banyak? 

Lumayan, di kami yang sudah terdaftar itu sekitar 100-120 ribu dari Januari. Pada Januari transaksi di kami masih under Rp5 miliar dan ratusan juta doang.  Di Maret sampai di titik saat ini Rp10-15 miliar transaksinya.

Karena kan terbuka ketika ada yang jual langsung muncul di historical transaksi, kaya bursa lah. Transaksi di Rekeningku yang terbesarnya itu Bitcoin kurang lebih Rp5-7 miliaran setiap hari. Etherum itu Rp2-4 miliar sisanya koin lainnya. Sekarang kami listing 10 jenis koin, 8 internasional, dua lokal.

Orang kaget transaksi kali Rp450 miliar per bulan, padahal kalau dibandingkan luar negeri itu belum ada apa-apanya. Marketplace nomor satunya di dunia itu transaksinya sudah hampir Rp30 triliun per bulan.

Di luar negeri pun, perusahaan-perusahaan seperti Rekeningku.com jadi unicorn, sudah biasa, ada puluhan. Jadi Indonesia di kripto itu mirip e-Commerce 10 tahun lalu. Apalah Tokopedia dulu, sekarang?

Apa yang memengaruhi nilai cryptocurrency

Kalau sekarang regulasi. Yang bikin harga sempat jatuh, itu karena OJK nya Amerika Serikat mem-purpose ini untuk jadi investasi dari perusahaan, mau reksa dananya lah atau apalah.

OJK nya AS itu, ada suatu momen dia di Juli sudah mau ketok palu dan rumornya itu responsnya positif. Setelah itu di-postpone ke Agustus, dan di Agustus di-postpone lagi. Jadi muncul ketidakpastian itu lah yang buat harganya turun. Selain itu, fluktuasi dolar AS juga berpengaruh. Karena cryptocurrency itu kan kita patokannya dolar AS

Keamanan investor cryptocurrency bagaimana?

Yang paling bahaya kan di kripto itu ketika dia mendapatkan akses dari dompet investor itu, dan bisa mengirimkan koin ke luar.

Jadi pas kita mau login (Di marketplace) itu kita butuh namanya On Time Password (OTP). Asumsikan OTP berhasil dilewati pembobol dompet. Ketika dia kirim koin ke luar, kami kirim lagi e-mail verifikasi ke pemilik dompet, dan dia harus konfirmasi.

Setelah dia atau investor tekan pun dalam jumlah besar ada approval kita, ada notifikasi jumlahnya sekian besar kalau kita cek gak ada keanehan kita keluarkan. itu dari sisi klien.

Dari sisi Rekeningku, kalau ada yang berhasil masuk ke server perusahaan, kami ada yang namanya cold storage yang adalah tempat penampungan semua aset itu yang tidak ada sama sekali hubungannya dengan online, dan diakses cuma di perusahaan bisa dua orang.

Jadi kalau hacker masuk ke sistem pun nilainya gak seberapa besar yang besar itu ada di cold storage. Dan cold storage itu hingga saat ini enggak bisa ditembus orang karena itu offline.

Perizinan investasi cryptocurrency bagaimana sekarang

Kami sih sudah bertemu dengan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bapepti). Rencananya kan mau dimasukkan ke komoditas.

Yang masih sedikit rancu itu, komoditas itu kan jadi acuan investasi. Sedangkan di koin tertentu itu ada utilitas karena ada kegunaannya, katanya kalau di Bappeti itu masih rancu.

Di Otoritas Jasa Keuangan sendiri, ini kan ada utilitasnya bukan sekuritas enggak pure securitas. Masih dibahhas. Kami sih senang-senang aja kalau regulasinya jelas.

Nah Rekeningku sekarang kita belum ada izin khusus, baru SIUP dan PT standar perusahaan. Kalau izin khususnya tidak ada, seperti peer-to-peer landing itu kan baru ada izinnya.

Menurut saya, ujung-ujungnya itu asosiasi yang merekomendasikan. Tapi saat ini kmi sudah ada sertifikat resmi dari asosiasi. Jadi posisi kita itu strategis lah. Kalau dari sisi regulasi sudah kelar perusahaan dan investor juga senang.

Bagaimana negara lain mengatur investasi model ini?

Kita mengacu pada beberapa negara seperti di Eropa, AS, Jepang dan Korea Selatan. Kalau sekarang sih mereka lebih ke sisi perusahaannya itu untuk mendapatkan izinnya jauh lebih susah.

Kaya di Jepang, itu 16 perusahaan marketplace itu maksimal, untuk urus izin lagi kurang lebih 2 tahun. Direksinya harus bagus, laporan keuangan bagus ada, modalnya yang disetor berapa, jadi lebih ke mengawasi perusahaan

Hal itu penting karena untuk menghindari misalnya, suatu perusahaan sudah mulai goyang keuangannya, akhirnya ambil duit dari dana nasabah. Jadi regulasi itu nomor satu.

Prospek ke depan?

Kekuatan blockchain masyarakat berpartisipasi. Kalau masyarakat berpartisipasi dapat apa? Pasti cryptocurrency. Kalau uang kripto itu yang akan diperjualbelikan terus, jadi bagus.

Tidak bisa dihindari 5 tahun ke depan blockchain adalah hal yang biasa dalam simpan data. Diaplikasikan di pemerintahan pun bisa banget.

Contohnya di AS. Mereka itu sudah mau diimplementasikan dalam voting. Sehingga pemerintah yang mengontrol KPU-nya. Agar tidak ada  ‘dititipin’, karena sesuatu yang sudah ditanam tak bisa diubah, apalagi masyarakat sudah partisipasi.

Apalagi uang kripto itu jauh menggampangkan orang dalam berbagai hal, cuma banyak orang enggakngeh. Di luar negeri sudah hal yang umum banget.

Contoh ya. Punya saudara di AS, terus mau transfer kebutuhan sekolah dan sehari-hari di sana, pakai bank itu ada biaya US$5 dolar dan kirim Senin sampai Rabu. Kalau pakai uang kripto, beli di sini kirim ke sana, lima menit kemudian sampai dan bisa tukar ke dolar AS langsung beres. Biayanya cuma 20 ribu doang tapi hitungan menit. Kan simpel banget.

Uang Kripto sebagai alat pembayaran, bagaimana menurut Anda? 

Di Indonesia tidak diizinkan. Kalau kami sih tidak keberatan dengan itu. Karena, jangankan cerita Bitcoin, emas aja tidak boleh jadi alat transaksi pembayaran.

Misal kita ke sorum, Isuzu Panther ini Rp300 juta atau 0,3 kg emas. Kan enggak boleh. Itu sudah memang regulasi dan kami enggak masalah.

Di luar sih sudah dipakai transaksi pembayaran. Negara-negara yang open minded silakan saja. Seperti Jepang, Eropa, Korea Selatan, Amerika ya silakan aja. Sudah pakai, karena itu jauh lebih simpel.

Apalagi susah dikontrol, kalau kita di border itu kan biasanya harus declare uang yang dibawa berapa. Kalau ini (uang kripto) bagaimana ngeceknya, di fisiknya enggak ada sama sekali. tapi di handphone-nya dia wallet-nya bisa aja nilainya ratusan miliar.